LENSAINDONESIA.COM: Di tengah krisis energi di sejumlah negara, harga minyak kembali melambung tinggi. Bahkan, naik kelevel tertinggi dalam 3 tahun terakhir.

Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Dwi Soetjipto berharap, dengan kenaikan harga minyak yang cukup signifikan diharapkan dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh produsen minyak di tanah air. Sehingga, volume produksi bisa semakin di tingkatkan/

“Bagi produsen minyak ini adalah kesempatan untuk seagresif mungkin meningkatkan produksi sehingga meningkatkan revenue dan profit semaksimal mungkin. Dengan demikian penerimaan negara akan menjadi sangat bagus,” ujar Dwi.

Diketahui, minyak mentah Brent melemah 23 sen menjadi US$ 83,42 per barel pada Selasa setelah pada Senin (11/10/2021) mencapai US$ 84,60, tertinggi sejak Oktober 2018 atau 3 tahun terakhir. Sedangkan minyak berjangka AS naik 12 sen menjadi US$ 80,64 per barel, setelah bergerak berkisar US$ 81,62 dan US$ 79,47.

Dengan kenaikan itu, dikatakan Dwi, penerimaan negara bisa semakin meningkat. Untuk tahun ini sekitar Rp 100 triliun. “Kalau ada target Rp 100 triliun penerimaan negara tahun ini, kita harapkan bisa di atas Rp 150 triliun,” jelas dia.

Di dalam catatan SKK Migas, penerimaan hulu migas hingga Agustus mencapai sekitar Rp 125 triliun, atau 125% dari target. Dengan melambungnya harga minyak, secara otomatis akan mendongkrak investasi masuk ke Indonesia.

“Ketika kita menghitung keekonomian dengan harga minyak yang tinggi, maka harga keekonomiannya menjadi bagus. Inilah kesempatan investor masuk ke Indonesia untuk investasi,” paparnya.

Kenaikan harga minyak, lanjut Dwi, merupakan efek domino dari berkurangnya produksi batu bara. Sehingga, industry global yang membutuhkan kembali lagi ke minyak dan gas. Selain itu, proyek-proyek yang selama ini berhenti kembali berjalan dengan menggunakan migas, termasuk permintaan yang cukup banyak dari Eropa.

Meski demikian, tambahnya, Indonesian Crude Price (ICP) idealnya di kisaran US$ 60-US$ 65 per barel di 2022. Dengan asumsi makro RUU APBN 2022 sebesar 63 dolar AS per barel.@rd