LENSAINDONESIA.COM: Komisi D DPRD Kabupaten Jember kaget. Pasalnya, sejak masa pandemi Covid-19 yang berjalan nyaris 2 tahun ternyata diimbangi dengan banyaknya perempuan yang menjadi janda. Bahkan, data yang tercatat menyebutkan ada sekitar 159 ribu janda.

“Ya, kami agak terkejut dengan laporan dari DP3AKB (Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana). Angka ini bukan angka kecil. Ini angka luar biasa. Saudara-saudara kita yang berstatus janda ini ada beban, bukan hanya butuh makan tapi juga pendidikan anak,” ujar Ketua Komisi D Kabupaten Jember, Mohamad Hafidi, Kamis (14/10/2021).

Kata Hafidi, jumlah janda yang meningkat tajam tentunya diimbangi dengan jumlah perceraian. Sehingga, dia tak bisa memastikan apakah karena faktor ekonomi atau yang lain.

“Mungkin efek kondisi ekonomi. Kedua, mungkin karena efek pandemi Covid. Ketiga, mungkin permasalahan umumnya masalah keluarga,” jelasnya.

Untuk itu, Hafidi meminta agar ada tambahan anggaran untuk DP3AKB yang bertugas menangani para perempuan kepala keluarga. “Memang butuh ada semacam dorongan dan bimbingan terhadap saudaras-saudara kita berstatus janda. DP3AKB akan membuat langkah, termasuk untuk menangani pekerja migran Indonesia yang membutuhkan perhatian dalam ketahanan ekonomi,” kata dia lagi.

Bahkan, lanjut Hafidi, Komisi D berjanji akan melakukan diskusi dengan Tim Anggaran Pemerintah Daerah Kabupaten Jember. Meski, dalam Perubahan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah 2021, DP3AKB Jember tidak dapat mengajukan tambahan anggaran karena tahun anggaran berakhir. “Tapi kalau kami ditambahi, kami bersedia maksimal Rp 200 juta,” tambah Kepala DP3AKB Jember Suprihandoko. @rd