LENSAINDONESIA.COM: Seolah-olah ada mosi tak percaya terhadap kepemimpinan Suharso Monoarfa di partai berlambang Ka’bah. Setelah anak pendiri partai, kini giliran mantan Ketua Umum Angkatan Muda Kabah Periode 2005-2010, Syafrudin Anhar, yang bicara.

Selain elektabilitas anjlok menjelang Pemilu 2024, gaya kepemimpinan Suharso membawa ‘perahu’ PPP juga dikritisi. Menurut dia, kini PPP banyak mengabaikan kader.

“Banyak yang menuntut Suharso mundur dari jabatannya. Menurut saya, ini adalah aspirasi para kader yang telah diabaikan,” jelas Syafrudin Anhar.

Kata dia, telah banyak pengingkaran janji yang dibuat oleh Suharso. Diantaranya, janji akan mendongkrak elektabilitas partai melalui program yang sampai sekarang belum terbukti nyata.

“Saya melihat dia (Suharso) otoriter dan tidak demokratis. Jadi, Orang yang ngurus rumah tangganya saja tidak beres bagaimana mau memimpin organisasi,” papar dia.

Bahkan, lanjut Syafrudin, salah satu alasan para kader meminta Suharso untuk turun dari jabatannya adalah pemilihan struktur partai yang hanya berdasarkan penunjukkan.

“Kemungkinan ini yang membuat dan akan terjadi penurunan suara yang luar biasa, diakibatkan sikapnya,” tambahnya.

Sementara, berdasarkan survei charta politika, PPP memiliki elektabilitas yang sangat rendah yaitu 2,8 persen. Padahal, ambang batas atau parliamentary threshold (PT) adalah 4 persen.

Ditambah lagi, beberapa pekan ini juga ada aksi demo yang digelar oleh kader PPP. Mereka meminta Suharso Monoarfa untuk mundur dari jabatannya. @rd

Baca Juga:  Elektabilitas anjlok, anak pendiri PPP mengaku prihatin kepemimpinan Suharso